JadwalPengajaran KEP di Paroki Kristus Raja-Serang diatur sebagai berikut: Kursus diadakan setiap Rabu dan Sabtu, pukul (KEP Umum) dan setiap Minggu pukul 10.30-14.30 (OMK) selama 4 bulan dan ditutup dengan Retret pengutusan pada 16-18 Desember 2016. Setelah Jalan Salib acara dilanjutkan dengan Misa Kudus di kapel Gua Maria ZiarahDan Misa Syukur Pro Diakon Di Gua Maria Pereng Salatiga Paroki Nandan 23.13 Seiring hari telah cepat berlalu, masa tugas sebaga Prodiakon akan berakhir , sebagai rasa syukur atas berkat Allah dimana pada Prodikaon telah dapat menjalankan tugas pelayanan dengan baik , maka diadakan ziarah dan misa syukur di Gua Maria Pereng Salatiga (6/12). Minggu 2 September 2012, kami sekeluarga mengikuti ziarah rohani ke Goa Maria Bukit Kanada Rangkas Bitung di Propinsi Banten. Ziarah kali ini diikuti hampir seluruh anggota Lingkungan St. Norbertus Paroki St. Paulus, Depok. Ada yang istimewa dari ziarah kali ini, setidaknya menurut pendapat pribadiku. NatalTahun ini, di Goa Maria Pohsarang, Kediri, Misa Natal akan dilakukan secara terbatas. Hanya warga Katolik sekitar yang bisa ikut. Jumat, 18 Desember 2020 17:32 Padatanggal 1 Mei 1988 Pastor Paroki meletakan batu pertama sebagai langkah awal pembangunan Gua Maria. Pembangunan Gua Maria itu selesai tepat pada tanggal 15 Agustus 1988, yaitu Hari Raya Maria diangkat ke Surga, bertepatan dengan penutupan Tahun Maria. Gua Maria ini di berkati oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. yang sekaligus menjadikan tempat ini sebagai tempat ziarah pertama di Keuskupan Bogor, tanah Banten. Mengingat Gua Maria ini terletak di Desa Jatimulya, Kampung Narimbang Dalam, maka Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Minggu siang sekitar jam saya tiba di Gua Maria Bukit Kanada di Rangkasbitung. Lokasinya berada di bagian belakang kompleks Akademi Keperawatan Akper Yatna Yuana di Jalan Sudirman. Cuaca siang itu cukup panas. Gua Maria Bukit Kanada Rangkasbitung merupakan salah satu tempat ziarah bagi umat Katolik. Lokasinya yang berada di pinggir timur kota Rangkasbitung ini memang jauh dari kebisingan dan menyajikan suasana yang tenang dan hening. Kata “Kanada” sendiri merupakan singkatan dari Kampung Narimbang Dalam, wilayah administratif di mana Gua Maria yang dibangun pada tahun 1988 tersebut berada. Dari tempat parkir, saya berjalan melalui jalur selebar kurang lebih 2 meter yang akan membawa pengunjung menuju ke Gua Maria. Di kiri jalur berpaving tersebut terdapat Taman Santo Pius, taman kecil dengan tanaman-tanaman pendek serta sebuah dinding panjang yang bergambar kisah kehidupan Yesus Kristus. Saya pun tiba di lokasi utama Gua Maria. Saat itu tengah berlangsung ibadah umat Katholik, di banguan kapel utama dan bangunan tempat Gua Maria berada. Kedua bangunan ini memang berhimpitan satu sama lain, dengan pohon beringin berukuran besar berada di kiri depan. Bangunan tersebut hanya berdinding di sisi belakang saja, sementara sisi depan dan samping terbuka. Baca juga Keraton Kasepuhan di Cirebon, Akulturasi 3 Agama dan Budaya Saya ikut bergabung di baris belakang dalam ibadah tersebut, meski hanya menjadi pengunjung saja. Beberapa kidung yang dilantunkan umat begitu khas dan membawa suasana penuh damai. Setelah ibadah, sebagian besar umat meninggalkan tempat tersebut. Namun ada beberapa orang yang masih tinggal dan melanjutkan berdoa secara pribadi di Gua Maria. Dalam tradisi Katolik, keberadaan Gua Maria memiliki sejarah cukup panjang. Bunda Maria beberapa kali menampakkan diri kepada orang-orang terpilih. Salah satu penampakan yang paling terkenal adalah penampakan Bunda Maria kepada Bernadette Soubirous di Gua Massabielle, dekat kota Lourdes, Perancis pada tahun 1858. Saat itu Bernadette berjumpa dengan seorang wanita yang bergaun putih. Bernadette menanyakan nama wanita itu. Kemudian wanita itu berkata kepada Bernadette, “Que soy era immaculado councepciou” yang artinya Aku adalah yang dikandung tanpa dosa. Gua di Lourdes ini di kemudian hari menjadi tempat ziarah paling populer dan menjadi inspirasi untuk membuat tempat ziarah serupa. Saat ini banyak tempat ziarah gua Maria dibangun di beberapa tempat di dunia, termasuk di Rangkasbitung. Gua di Rangkasbitung ini bernuansa alami, dengan bahan struktur dari batu karang yang didatangkan dari Pantai Carita, Labuan. Sementara model patung Bunda Maria yang digunakan adalah Patung Maria Lourdes. Dari Gua Maria, saya kemudian menuju sebuah tempat di sisi kanan kapel yang diberi nama Makam Yesus. Tempat yang pada bagian atas pintunya terdapat tulisan “Grotto Kebangkitan” ini adalah sebuah kapel yang berukuran lebih kecil dari kapel utama. Jika dibandingkan dengan kapel utama yang terbuka di tiga sisinya, kapel makam Yesus ini tertutup di semua sisi dengan dinding berwarna krem. Di bagian kiri depan, ada replika jenazah Yesus yang dibaringkan. Dari Makam Yesus, saya kemudian menyusuri Jalan Salib. Ada dua Jalan Salib yang dibangun di lokasi ini, yaitu rute pendek dan rute panjang. Rute pendek berada di taman kecil di depan Makam Yesus. Sebuah jalur berpaving sepanjang beberapa meter, dengan beberapa tengara atau penanda sebagai perhentian di kiri dan kanan jalur tersebut. Ada 14 perhentian yang mengingatkan umat akan peristiwa yang dialami oleh Yesus saat dijatuhi hukuman mati, memikul salib, hingga mati dan dikubur. Di perhentian-perhentian tersebut umat bisa melakukan devosi atau berdoa. Rute panjang dari Jalan Salib berupa jalur yang mengelilingi Gua Maria. Mulai dari sisi kanan, kemudian naik ke bukit di belakang, dan berakhir di sisi kiri Gua Maria. Serupa dengan rute pendek, rute panjang ini juga memiliki 14 perhentian yang melewati area hutan kecil. Suasana alami saya rasakan siang itu. Suara serangga beberapa kali terdengar di tengah teduhnya pohon-pohon hutan. Jalur yang mendaki membuat saya cukup berkeringat. 30 menit waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan rute panjang ini. Setengah jam tersebut saya lewati dengan berjalan kaki dan sesekali berhenti untuk memotret saja. Jika melakukan devosi di 14 perhentian yang ada, tentunya perlu waktu yang lebih lama lagi. Saya pun mengakhiri kunjungan satu setengah jam di Gua Maria Bukit Kanada ini. Sebuah bangunan kecil di area parkir menjadi tempat saya melepas lelah dengan menikmati semangkok mie telur dan minuman dingin. Di sini juga menyediakan suvenir bagi pengunjung, seperti kaos dan rosario. Kita tidak dikenakan biaya untuk berkunjung ke tempat ini. Namun demikian, di beberapa tempat disediakan kotak khusus yang bagi pengunjung yang ingin memberikan derma. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke Gua Maria Bukit Kanada ini, cara yang paling gampang adalah dengan naik KRL jurusan Tanah Abang- Rangkasbitung. Dari stasiun Rangkasbitung, kita bisa naik angkutan umum warna merah atau ojek online menuju Akper Yatna Yuana yang jaraknya sekitar 3 kilometer. HomeGua Maria Kanada Kronika Post Ziarek Lingkungan St. Fransiska Harmonisasi Umat Lewat Rosario 23 October 202223 October 2022 Nissa Lingkungan St. Fransiska Paroki St. Vincentius A Paulo melangkah bersama menuju Rangkasbitung, Sabtu 22 Oktober 2022. Selengkapnya.... FRIDAY'S IN LENT Mass 7 PM Stations of the Cross PM Silent Adroration & Divine Mercy 8 - 9 PM Devotion to the Precious Blood 9 PM - Midnight DAY OF CONFESSION Friday April 8 7 AM – 7 PM Only one Priest at a time Please wear a mask No confession during Holy Week HOLY THURSDAY April 14 500 PM PM GOOD FRIDAY April 15 1100 AM 100 PM 300 PM WAY OF THE CROSS STATIONS 700 PM EASTER VIGIL April 16 830 PM EASTER SUNDAY April 17 730 AM 900 AM 1030 AM 12 NN 130 PM HOLY WEEK SCHEDULE 2022 PRINTER FRIENDLY COPY Nama/Pelindung Santa Maria Tak Bernoda Buku Paroki Sejak tahun 1988 Alamat Jalan Multatuli Nomor 38 Rangkasbitung 42311 – Banten Telepon 0252 201652 Pastor Paroki RD. Andreas Bramantyo Pastor Vikaris RD. Yohanes Anggi Witono Hadi Sebelum tahun 1929 daerah Banten hanya dapat dikunjungi oleh Pastor-pastor Yesuit dari Jakarta secara berkala. Tetapi tidak selamanya para Pastor Yesuit itu mengunjungi daerah Banten, yang pada permulaannya memang agak unik dan istimewa. Tak lama kemudian para Pastor Fransiskan pun hadir di bumi pertiwi Indonesia. Oleh karena itu, Vikaris Jendral Jakarta mempercayakan daerah Banten itu kepada “Para Pendekar” Gereja, yang berjubah coklat-coklat tua itu. Kemudian Pater HH. Lunter OFM mengawali karya baktinya dengan mengadakan kunjungan bulanan. Lama kelamaan kunjungan bulanan itu diganti dengan menetapnya Pastor pertama di daerah Banten Rangkasbitung, yaitu Pater HH. Lunter OFM, sejak tanggal 12 Oktober 1933. Di situlah Pater HH. Lunter OFM, berhasil bertemu dan berjuang bersama suster-suster Fransiskus Misionaris Maria FMM. Para suster FMM itu kemudian menjalin kerjasama dengan “Persatuan Pengusaha Perkebunan Lebak”, dengan menyelenggarakan sebuah Rumah Sakit yang mungil dan sederhana, namun sanggup melayani pengobatan bagi penduduk Lebak Rangkasbitung dan sekitarnya. Sebenarnya Rumah Sakit itu telah didirikan oleh Para Pengusaha Perkebunan Lebak di Banten Tengah/Selatan. Atas kerjasama yang baik antara Pastor dan Suster dengan Tuan van Leeuwen, maka didirikanlah sebuar Gereja kecil Kapel di Rangkasbitung. Kapel tersebut diberkati oleh Pater Provinsial Caminada, yaitu dua hari setelah beliau meletakkan batu pertama Biara Suster-suster Klaris di Cicurug, tanggal 19 Desember 1933. Setelah Pater HH. Lunter OFM berkarya di Banten, beliau diganti oleh Pater YC. Heitkönig OFM, kemudian diganti lagi oleh Pater FJH. Teepe OFM, dan menyusul Pater AAG. Cremers OFM. Semenjak Pater HH. Lunter OFM berkarya mulailah bermunculan stasi kecil, sayangnya saat itu tidak dimulainya karya baru guna melayani rakyat Rangkasbitung, selain Karya Kesehatan hingga meletusnya Perang Dunia II. Saat itu memang masih berlaku Peraturan Pemerintah Kolonial yang menghalangi Pastor-pastor memasuki beberapa daerah pedalaman demi Orde en Rust, yaitu takut akan menimbulkan huru-hara akibat kedatangan para Pastor maupun pendeta di daerah pedalaman. Mereka diberi izin sebatas melayani dan mengunjungi umatnya sendiri. Faktor penghambat lainnya adalah masalah bahasa dan kebangsaan untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Selain hambatan diatas, muncullah hambatan lain di jaman penjajahan Jepang. Pada jaman Jepang itu, Pater AAG. Cremers OFM dan Pater Van der Hoogen dari Serang bersama para Suster asal Belanda dan Belgia ditahan di dalam Kamp tahanan perang di Cimahi dan Baros. Atas usaha Mgr. W. Willehem SJ, maka satu-satunya Suster, yaitu Suster Waldeburga FMM berkebangsaan Jerman, dan dua Suster Ursulin berkebangsaan Indonesia Jawa tidak diinternir. Sehingga mereka dapat meneruskan karya bhaktinya di Rumah Sakit Lebak Rangkasbitung. Jerman merupakan sekutu Jepang, sehingga ada dispensasi bagi orang berkebangsaan Jerman. Demikian pula para “Pendekar Berjubah Coklat”, selama berada di Kamp tahanan perang, para Pastor Yesuitlah yang sedikit banyak berkorban mengunjungi Umat Katolik di Rangkasbitung, yang saat itu juga mulai banyak bermunculan. Setelah Jepang menyerah dan perang berakhir, maka para Suster Belanda, dan Pater AAG. Cremers OFM kembali pulang ke Rangkasbitung. Kalau kita melihat ke “dalam” bahwa Pater AAG. Cremers OFM itu menjadi “kurban” dari semangat nasionalisme para pemuda yang berkobar-kobar, yang pada saat itu belum mengenal peranan dan tugas seorang Pastor. Semula disangka seorang Pastor juga ikut memihak di bidang politik, selain menangani di bidang rohani bagi umatnya di wilayah Banten, sehingga Pater AAG. Cremers OFM itu ditangkap dan dikabarkan dalam bahaya besar. Tetapi berkat jasa dokter Adjidarmo seorang Muslim, maka Pater AAG. Cremers bersama Pater Van der Hoogen OFM dari Serang berhasil diselamatkan hidupnya. Semula mereka dikabarkan telah meninggal dunia, sehingga Pater RJ. Koesnen OFM ditempatkan di Rangkasbitung sebagai pengganti Pater AAG. Cremers OFM. Tetapi, pada kenyataannya Pater AAG. Cremers dan Pater Van der Hoogen OFM itu muncul kembali dan mereka dalam keadaan sehat. Suasana di Rangkasbitung tetap “panas” sampai timbul lagi keadaan yang membahayakan, terutama bagi para Suster. Para Suster itu walaupun tidak mau meninggalkan Rangkasbitung, mereka juga “diamankan” dan dibawa ke Jakarta. Walaupun dengan perundingan yang cukup lama, akhirnya para Suster FFM itu akhirnya diizinkan pulang ke Rangkasbitung. Ketika mereka berada di garis Demarkasi antara tentara Belanda dan Tentara Pemuda Indonesia telah menunggu kedatangan mereka. Setelah masa perjuangan fisik usai, maka Pater RJ. Koesnen OFM yang mulai bertugas di Rangkasbitung sejak tersiarnya berita meninggalnya Pater AAG. Cremers OFM, tetap bertugas di Rangkasbitung yang kemudian diganti oleh Pater A. Schnijder OFM. Karya Pendidikan Di masa karya pelayanan Pater A. Schnijder OFM inilah maka Yayasan Mardi Yuana mulai bergerak untuk membantu bidang pendidikan bagi bangsa yang merdeka. Tanpa memandang agama dan latar belakang yang saling berbeda, Perguruan Mardi Yuana membantu masyarakat di Karesidenan Banten untuk memperoleh pendidikan. Selain mendirikan TK, SD, dan SMP di Serang, di Rangkasbitung didirikan pula TK, SD, dan SMP secara bertahap. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok daerah Banten, yaitu Cisalak Baru, Cikadu, Cikareo, Cikotok, Sanghiyang Damar, dan Labuan. Di Rangkasbitung pun ada Rumah Perawatan, sebagaimana di Sindanglaya yang bernama Asrama Santo Yusup, yaitu Asrama “Seri Kedjora”. Kedua Asrama tersebut ada pengurusnya sendiri dan tidak ada saling ketergantungan sama lain. Pengurus Asrama “Seri Kedjora” ditangani oleh Pater A. Schnijder OFM. Menurut data Paroki, yang tertanggal 30 September 1952 Asrama “Seri Kedjora” itu merawat dan membina maupun mendidik 11 anak yatim piatu. Pada saat itu Rumah Perawatan “Seri Kedjora” tidak memusat pada organisasi Yayasan Yatna Yuana, yang berkedudukan di Sukabumi. Tepat tanggal 25 Juli 1956 pengurus Asrama ” Seri Kedjora” itu dialihkan kepada Pater Vermeulen OFM. Dan pada tanggal 4 April 1959 Asrama itu dihuni oleh 38 anak. Lama kelamaan Asrama “Seri Kedjora” tersebut berubah fungsinya, yaitu untuk mengasramakan siswa-siswa Sekolah Mardi Yuana yang rumahnya jauh dari kota Rangkasbitung. Adapun Asrama “Seri Kedjora” Bertujuan mengajar dan mendidik putera-puteri warga Indonesia agar menjadi orang yang baik, berguna bagi masyarakat. Dasarnya Pancasila Syarat penerimaan – tidak lebih muda dari 7 tahun – tidak lebih tua dari 15 tahun – berbadan sehat – dan berkelakuan baik Uang asrama dapat berdamai Akhirnya, karena kurangnya dana, maupun tidak ada pengurus yang sanggup menangani, maka Asrama “Seri Kedjora” dibubarkan pada pertengahan tahun 1983. Perlu dicatat bahwa Asrama “Seri Kedjora” itu juga sebagai tempat tinggal Pastor Paroki beserta Pater pembantunya. Kecuali itu, beberapa siswa yang pernah menikmati kebaikan dan perhatian Pater Vermeulen OFM, kini sedang mengalami penggodokan dan penggemblengan di Seminari Tinggi untuk mempersiapkan diri menjadi Pastor. Peran para Pastor diatas tidaklah kecil dalam memberikan sumbangsihnya terhadap keberadaan Paroki Ini. Berikut ini di uraikan beberapa pastor yang pernah dan sedang berkarya di Paroki sebelah ujung barat Pulau Jawa ini. 1. Pastor HH. Lunter, OFM. 2. Pastor YC. Heitkonig, OFM. 3. Pastor FJH. Teepe, OFM. 4. Pastor AAG. Cremers, OFM. 5. Pastor WAJ. Kohler, OFM. 6. Pastor H. Van der Hoogen, OFM. 7. Pastor M. Ismael Hardjowardjojo, OFM. 8. Pastor Yos Wahyo Sudibyo, OFM. 9. Pastor RJ Koesnen, OFM. 10. Pastor Agustinus Schnijder, OFM. 11. Pastor JC. Postma, OFM. 12. Pastor OFM. 13. Mgr. OFM. 14. Pastor Rd. Mas CS. Tjipto Kusumo, Pr. 15. Pastor AG. Yacobus, OFM. 16. Pastor A. Sutono Wiriosuwarno, OFM. 17. Pastor TH. GY. Ruijs, OFM. 18. Pastor CS. Tjiptokusumo, OFM. 19. Pastor TH. Koopmann, OFM. 20. Pastor C. Van der Berg, OFM. 21. Pastor Vicente Kunrath, OFM. 22. Pastor HV. Genuchten, OFM. 23. Pastor P. Dupont, OFM. 24. Pastor Frans Sutono, OFM. 25. Pastor W. Hofsteede, OFM 26. Pastor J. Demmrs, OFM. 27. Pastor St. Danuwidjojo, Pr. 28. Pastor D. Parto Sudarmo, OFM. 29. Pastor Felix Teguh Suwarno, Pr. 30. Pastor Yoseph Hardjono, Pr. 31. Pastor Benyamin Sudarto, Pr. 32. Pastor Tarsisius Suyoto, Pr. 33. Pastor St. Sumardiyo, Pr. 34. Pastor Frans Mulyadi, Pr. 35. Pastor Fabianus S. Heatubun, Pr. 36. Pastor Markus Lukas, Pr. 37. Pastor YM. Ridwan Amo, Pr. 38. Pastor Paulus Haruno, Pr. 39. Pastor Ch. Tri Harsono, Pr. 40. Pastor Albertus Simbul Gaib, Pr. 41. Pastor AHY. Sudarto, Pr. Gua Maria Bukit Kanada Pada pesta Santa Maria Bunda Allah 1 Januari 1987, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan untuk pertama kalinya tentang Tahun Maria. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Surat Gembala Paus atau Enslik Redemtoris Mater, tepatnya pada tanggal 25 Maret 1987 pada Pesta Maria menerima kabar dari Malaekat Gabriel. Tahun Maria terhitung sejak hari Pantekosta sampai dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Inti Surat Gembala itulah yang memberikan motivasi kepada seluruh umat untuk merenungkan peran Maria sebagai Bunda Allah, Bunda Gereja, dan Bunda Penyelamat. Hal ini terlihat nyata dalam Devosi umat Katolik kepada Bunda Maria. Umat Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung menanggapi ajakan Bapa Suci maupun Bapa Uskup dengan caranya sendiri yang sangat simpatik. Dengan kemauan yang keras untuk mempersembahkan Gua Maria ditengah-tengah Suku Badui, maka Monumen yang hadir di Paroki ini merupakan sejarah sejarah tersendiri yang tak ternilai harganya, Berkat upaya Pastor Paroki dan Pastor Pembantu saat itu Romo B. Sudarto Pr dan Romo Sumardiyo, Pr, maka Bapak Uskup pun saat itu Mgr. Ign. Harsono, Pr. merestui tekad itu. Panitia Pembangunan Gua Maria PPMG yang terbentuk bulan Februari 1988 mulai mewujudkan harga nyatanya yang memperoleh dukungan dari Pimpinan Konggregasi Suster-suster Fransiscanes Sukabumi di Rangkasbitung. Dukungan yang di berikan adalah berupa sebidang tanah yang sekomplek dengan SPK Misi Lebak Rangkasbitung dan dianggap memenuhi syarat sebagai Gua Maria. Pada tanggal 1 Mei 1988 Pastor Paroki meletakan batu pertama sebagai langkah awal pembangunan Gua Maria. Pembangunan Gua Maria itu selesai tepat pada tanggal 15 Agustus 1988, yaitu Hari Raya Maria diangkat ke Surga, bertepatan dengan penutupan Tahun Maria. Gua Maria ini di berkati oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. yang sekaligus menjadikan tempat ini sebagai tempat ziarah pertama di Keuskupan Bogor, tanah Banten. Mengingat Gua Maria ini terletak di Desa Jatimulya, Kampung Narimbang Dalam, maka Romo St. Sumardiyo, Pr. memberi nama Gua Maria Bukit Kanada, yang merupakan akronim dari kampong Narimbang Dalam. Sebuah nama yang indah di atas segala nama Gua atau tempat Ziarah lainnya di bumi persada tercinta ini. Sebuah kenangan manis yang penuh sejarah dan tercipta atas usaha keras serta kehendak yang kuat dari Umat Paroki Rangkasbitung di era 1987 1988. Keadaan Paroki Saat Ini. Umat Paroki Rangkasbitung yang berdasarkan Buku Permandian telah berusia 65 tahun pada tanggal 8 Agustus 1998 memiliki umat yang sebagian besar merupakan warga pendatang. Di tengah-tengah suku asli Banten, yaitu suku Badui, berdasarkan statistic tahun 1997 Paroki Rangkasbitung memiliki umat yang terdiri atas umat pendatang asal DIY, Jawa Tengah, Sumatera, Flores, dan sebagian lagi warga keturunan warga Tionghoa. Pertumbuhan umatnya memang terbilang sangat kecil. Dalam kurun waktu satu tahun saja, maka rata-rata pertumbuhannya mencapai 10 sampai 20 orang baptisan baru dewasa/remaja. Sekalipun terbilang kecil, namun dalam hal keorganisasian serta kegiatan menggereja, umat Paroki Rangkasbitung ini tidak mau ketinggalan dengan Paroki-Paroki lainnya. Beberapa kegiatan Paroki yang telah terlaksana dan terdapat dalam wadah organisasi misalnya saja, Bidang Sosial Ekonomi yang telah berupaya dalam APP, membentuk, mengkoordinir, serta membina unit Koperasi Paroki serta yang berada di lingkungan-lingkungan, dan bantuan pelayanan bagi pencari kerja maupun tertimpa musibah. Bidang Pastoral yang menitikberatkan pelayanan rohani yang berupa kegiatan Liturgi, Pewartaan, maupun pelayanan-pelayanan lainnya. Bidang Pendidikan dan Pembinaan Kader yang telah membina generasi muda Remaja Katolik/Mudika dan mendorong terbentuknya Pemuda Katolik yang hingga kini telah terdaftar di Kantor Sospol maupun di DPD KNPI Kabupaten Lebak. Jadwal Misa Kudus Harian Pukul WIB Jumat I Pukul Sabtu Pukul Minggu Pukul Cikotok Komplek Perumahan Tambang Mas Bpk. Tukimin Cikotok, Banten. Setiap Minggu ke II WIB Teluk Lada tba Parung Panjang Setiap Minggu Pertama WIB Labuan Setiap Minggu Ke III Pukul WIB Maja Setiap Minggu ke IV WIB Gua Maria Bukit Kanada tergantung peziarah Dalam event liburan kali ini, lingkungan Theresia 5 yang di ketuai oleh Pak Hendri Latief melakukan kunjungan ke Gua Maria Bukit Kanada. Gua Maria ini berlokasi di Rangkasbitung, Lebak, Banten yang merupakan salah satu destinasi ziarah dan wisata religi yang banyak dikunjungi, khususnya oleh umat Katolik dari berbagai daerah. Umat pun mulai bertanya tanya bagaimana sejarah nama Gua Maria Bukit Kanada ini.. Apa dari pendirinyakah yang adalah umat asal Kanada? Ataukah dari ornamen yang bertema Kanada? Dan apa mungkin Gua Maria ini diresmikan oleh Pastur yang berasal dari Kanada? Setelah mencari tahu nama Gua Maria yang terbilang cukup unik ini, ternyata nama tersebut merupakan singkatan dari Gua Maria Bunda Kita Kampung Narimbang Dalam. Sesuai namanya, Gua Maria Bukit Kanada ini letaknya berada jauh dari keramaian kota, menyediakan tempat beribadah yang teduh dan hening, sehingga merupakan tempat yang tepat bagi orang-orang yang ingin mencari suasana berdoa dengan tenang. Adapun Lingkungan Theresia 5 ini melakukan kunjungan dalam rangka survey untuk kegiatan ziarek Theresia 5 tahun 2019. Kunjunganpun diadakan pada tanggal 3 Juni 2019 diikuti oleh 12 orang baik dari Umat, OMK & BIA Theresia 5. Waktu perjalanan dari Bekasi ke lokasi +/- 2 jam. Di Gua Maria Bukit Kanada ini terdapat 2 rute jalan salib, yakni rute panjang dan rute singkat. Acarapun langsung dilanjutkan dengan ibadat jalan salib rute panjang yang dipimpin oleh Ibu Evelyne. Jalan Salibpun berlangsung hikmat dengan kondisi jalan yang baik, cuaca yang sejuk & pemandangan yang segar. Ibadat jalan salib pun ditutup dengan berdoa di Gua Maria Bukit Kanada yang letaknya masih satu area dan tidak jauh dari tempat pengambilan air suci, ziarah makam Yesus & area Jalan Salib untuk anak atau lansia. Seusai berdoa di Gua Maria, umat Theresia 5 melanjutkan dengan makan bersama di pondokan yang tersedia. Bahan makanan yang telah dibawapun dimasak langsung oleh Pak Kaling & Bu Kaling Theresia 5 untuk seluruh umat. Selesai makan, umatpun melanjutkan acara rekreasi ke Kampung Baduy yang letaknya kurang lebih 45 km dari Gua Maria Bukit Kanada. Di Kampung Baduy terdapat banyak kerajinan yang dijual seperti kain tenun, minyak urut, gelang, kalung dan masih banyak lainnya. Gula Aren dan kerupuk pun juga banyak dijual disana. Setelah rekreasi sejenak, umat Theresia 5 pun melanjutkan perjalanan pulang dan singgah untuk makan malam bersama. Semoga dengan kunjungan ke berbagai lokasi ziarah yang telah disediakan, semua umat katolik akan semakin menghayati Iman Kristiani dalam memikul Salib yang Kudus dan kompak dalam mewartakan kabar sukacita Tuhan Kita Yesus Kristus.

jadwal misa di gua maria kanada